Panduan Cara Budidaya Udang Windu Lengkap


Adapun budidaya udang windu dapat dilakukan di tambak dan di Keramba Jala Apung (KJA). 

Budidaya di tambak dapat dilakukan secara ekstensif (tradisional), semi intensif, intensif, dan super intensif. Demikian juga dapat dilakukan secara monokultur dan polikultur.


A. Budidaya udang windu di tambak.

Budidaya udang windu secara monokultur umum dilakukan pada tambak yang dikelola secara ekstensif, semi intensif, intensif dan super intensif. 

Pada tambak yang dikelola secara ekstensif, padat penebaran sangat rendah. Persiapan tambak sudah dilakukan dengan pengeringan, pengapuran dan pemupukan. 

Penebaran dengan menggunakan benih yang ukurannya seragam dengan kepadatan 8-10 ekor/ meter persegi. 

Pemberian pakan dilakukan tidak teratur. Namun hasil panen dapat ditingkatkan hingga mencapai 500-600 kg/ha/musim setelah pemeliharaan 7-8 bulan.

Jika predator di tambak dapat dikurangi, maka hasil panen dapat mencapai 700 kg.

Padat penebaran  pada tambak tradisional ditingkatkan hingga mencapai 15 ekor/ meter persegi dengan persiapan tambak yang baik, meliputi pengeringan, pembajakan, pemupukan dan pengapuran. 

Udang dapat diberi pakan tambahan secukupnya selama 3-4 hari sekali. Hasil panen dapat mencapai 800-900 kg/ha/musim.

Pada budidaya udang secara organik, pemebrian pakan buatan tidak dilakukan. Udang budidaya tergantung pada pakan alami yang ditumbuhkan melalui pemupukan. 

Padat penebaran 6-8 ekor/meter persegi. Dengan pengelolanaan air yang baik, tingkat kelulusan hidup mencapai 80%, maka pemeliharaan 4-5 bulan diperoleh udang sebanyak 600-700 kg/ha/musim.

Budidaya udang sistem semi intensif atau madya merupakan sistem yang sudah maju. Persiapan tambak mengikuti pola umum yaitu pengeringan, pembajakan, pemupukan dan pengapuran. 

Padat penebaran antara 15-30 ekor/meter persegi untuk udang windu. Untuk pengelolaan air, tambak dilengkapi dengan kincir dan pompa air. 

Demikian juga pemberian pakan dilakukan secara kontinyu sebanyak 2-3 kali sehari. Pakan yang diberikan berupa pelet yang mengandung protein 30-40%. 

Udang juga diberi pakan tambahan berupa udang rebon dan ikan rucah yang dicacahsecukupnya. Dengan pengelolaan yang baik, hasil panen tambak intensif mencapai 2-3 ton/ha/musim.

Budidaya udang windu secara intensif menerapkan padat penebaran tinggi dan pengelolaan yang optimal. 

Padat penebaran udang windu antara 30-50 ekor/meter persegi. Pemberian pakan dilakukan 4-6 kali sehari. Hasil panen yang diharapkan adalah 4-8 ton/ha/musim.

Sementara sistem super intensif merupakan sistem budidaya yang menerapkan padat penebaran sangat tinggi. 

Pada sistem ini udang windu dapat ditebar 50-80 ekor/meter persegi. Hasil panen yang diharapkan adalah 6-10 ton/ha/musim. 

Namun budidaya super intensif membutuhkan pengelolaan yang super untuk mempertahankan kualitas.


B. Budidaya udang windu di Keramba Jala Apung

Pemberian pakan pada kultur udang windu di KJA disesuaikan dengan padat penebaran dan target produksi. 

Untuk kultur semi-intensif dengan padat penebaran 75-100 ekor/metre persegi, pemberian pakan cukup dilakukan 2 kali sehari dengan dosis 3-10% dari berat biomassa udang. 

Pakan diberikan pada pagi dan sore hari dengan cara menempatkan pada tempat pakan (anco) berukuran 1 x 1 meter yang digantung pada keramba. 

Untuk mencegah kanibalisme, maka di dalam KJA di tempatkan shelter (pelindung) dari daun kelapa.


Panen dan Penanganan Hasil

Pemanenan udang dapat dilakukan secara selektif maupun total. Pada budidaya semi intensif dan intensif  pemanenan sebaiknya dilakukan secara total. 

Karena bila pengelolaan selama pemeliharaa berlangsung secara baik, maka jumlah udang berukuran kecil sangat sedikit. 

Ini berbeda dengan sistem pemeliharaan ekstensif (tradisional) dimana pertumbuhan udang laut sangat beragam, sehingga dapat dilakukan pemanenan secara selektif.

Sebelum pemanenan, segala sesuatu yang berkaitan dengan pemanenan dan penanganan hasil terlebih dahulu dipersiapkan, seperti wadah penampungan, kantong plastik dan tabung oksigen (untuk udang hidup), seser dan lain-lain. Pada hari pemanenan pemberian pakan dihentikan.

Pemanenan total udang di tambak dilakukan dengan menyurutkan air sehingga udang mudah di tangkap dengan tangan atau menggunakan seser. 

Pemanenan secara selektif dapat menggunakan jala atau jaring insang (gill net) yang disesuaikan dengan ukuran udang. 

Jaring insang direntangkan selebar tambak, kemudian ditarik dari satu sisi kolam ke sisi lainnya. Udang yang tersangkut kemudian dilepas dan ditampung pada wadah yang telah disediakan. 

Langkah selanjutnya mempersiapkan pengangkutannya untuk dipasarkan.

Udang hasil panen biasanya langsung dibeli  oleh pedagang pengepul yang langsung datang ke lokassi pemeliharaan. 

Pada usaha budidaya skala besar untuk tujuan ekspor, setelah panen udang dikirim kepada perusahaan pembeli. 

Udang dapat dipasarkan dalam keadaan hidup ataupun mati. Umumnya udang untuk ekspor dipasarkan dalam keadaan mati.

Penanganan pasca panen sangat menentukan harga jual, baik udang hidup maupun mati. Untuk udang dipasarkan dalam kondisi hidup, setelah panen udang langsung dicuci dengan air bersih kemudian di kemas dalam kantong-kantong plastik, seperti pengemasan benih. 

Kantong plastik telah berisi air dan udang hidup dipompakan oksigen, kemudian di kemas dalam karton. 

Sedangkan untuk menurunkan suhu di dalam kantong dapat diberikan potongan es batu yang telah di kemas dalam kantong-kantong kecil dan diletakkan di dalam karton. 

Karton siap diangkut dengan menggunakan mobil, kereta api atau dengan pesawat terabng.

Baca juga Disini : Cara Budidaya Kerang Mutiara Terlengkap Untuk Pemula

Posting Komentar

0 Komentar