4 Cara Budidaya Buncis Mudah dan Lengkap


Saat ini, buncis menjadi salah satu komoditas ekspor yang potensial bagi sektor holtikultura Indonesia, baik dalam bentuk buncis segar maupun produk olahan. 

Negara tujuan ekspor produk buncis olahan antara lain Singapura, Hongkong, Malaysia, Inggris, Prancis dn Australia. 

Beberapa kultivar yang dikenal memiliki produktivitas tinggi, diantaranya Sutera, Horti-3, Lebat-1, Snap-G13, Snap-612 dan Sora.

Berdasarkan sifat pertumbuhannya, dikenal 2 tipe tanaman buncis, yaitu indeterminate dan determinate.

Kultivar dengan tipe pertumbuhan indeterminite tumbuh dengan ketinggian 2-3 meter, sedangkan pertumbuhan kultivar dengan tipe determinate dapat mencapai ketinggian 20-60 cm dengan bunga terminal setelah daun keempat hingga ke delapan. 

Bunga tanaman buncis tergolong menyerbuk sendiri karena penyerbukan berlangsung setelah bunga membuka penuh (antesis). 

Buah buncis berupa polong dengan panjang bervariasi dari 8-20 cm dan lebar 1-1/2 cm. 

Tergantung pada kultivar dan keadaan lingkungan saat pembungaan, jumlah biji di dalam setiap polongnya bervariasi antara 4-12 butir. 

Ukuran rata-rata diameter biji bervariasi dari 0,7-1,5 cm dengan berat 0,2-0,6 gram dan bentuknya mulai dari bulat sampai dengan menyerupai ginjal.

Adapun cara menanam kacang buncis adalah sebagai berikut:


1. Perbanyakan Tanaman dan Penanaman

Buncis di perbanyak secara generatif menggunakan biji yang ditanam langsung di lapang. 

Benih yang digunakan harus benih bermutu dengan daya kecambah 80-85%. 

Bentuk benih, utuh (tidak cacat), bernas dan seragam, warnanya mengkilap, tidak ada bercak noda terutama dibagian lembaganya, bebas dari serangan patogen dan hama, tidak bercampur dengan benih dari varietas lain, dan bersih dari kotoran. 

Kecambah yang tumbuh dari benih bermutu akan berkembang cepat dan merata, serta mampu menghasilkan tanaman normal dengan produktivitas sesuai dengan deskripsi varietasnya.

Apabila menanam buncis tipe merambat maka jarak tanam di dalam barisan adalah 5-10 cm dan jarak antar barisan adalah 60-90 cm, sedangkan apabila menanam buncis tipe tegak (kacang jogo) maka jarak tanam di dalam barisan adalah 40 cm. 

Kedalaman penanaman benih hendaknya berkisar antara 2-4 cm. 

Apabila menanam dua barisan dalam satu bedengan, lebar bedengan tersebut hendaknya 100-150 cm.

Semua itu, tergantung pada tipe pertumbuhannya, apakan merambat atau tegak. 

Untuk menanam di lahan seluas satu hektar, diperlukan benih 22-55 kg kacang buncis atau kurang lebih 60 kg benih kacang jogo.

Sebelum ditanam, hendaknya benih dieri perlakuan fungisida untuk menghindari serangan patogen, penyebab penyakit rebah kecambah (damping off). 

Selain itu, kemampuan buncis untuk bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen lebih lemah dibandingkan dengan kacang-kacangan lainnya, dianjurkan untuk menginokulasi benih dengan bakteri penampat nitrogen (misalnya Rhizobium) jika buncis akan ditanam di tanah yang sudah lama tidak ditanami dengan kacng-kacangan. 

Penanganan benih hendaknya dilakukan dengan hati-hati karena kulit biji dan kotiledon yang pecah atau retak dapat menyebabkan turunnya laju perkecambahan dan berkurangnya vigor bibit setelah tumbuh.


2. Persiapan Lahan

Sebagaimana halnya dengan budidaya tanaman holtikultura lain, persiapan lahan untuk budidaya buncis dimulai dari pembersihan area tanam dari berbagai macam gulma. 

Pembersihan gulma untuk menghindari terjadinya persaingan dalam mendapatkan unsur hara dan air. 

Selain itu, membasmi inang bagi serangga vektor dari berbagai patogen penyebab penyakit pada penanaman buncis.

Setelah lahan dibersihkan dari gulma , langkah berikutnya adalah pengolahan tanah. 

Pada hakikatnya, pengolahan tanah merupakan upaya untuk mendapatkan kondisi media tanam yang ideal dalam pertumbuhannya dan produk buncis. 

Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 20-30 cm atau sedalam lapisan top soil. 

Pada tanah-tanah berat, pembajakan atau pencangkulan dapat dilakukan hingga dua kali dengan jarak 2-3 minggu, sedangkan di tanah-tanah ringan, cukup dilakukan satu kali pencangkulan.

Untuk memudahkan pemeliharaan dan menghindari terjadinya genangan air di sekitar batang tanaman, perlu dibuatkan bedengan dengan ketinggian kira-kira 20 cm, lebar 100-150 cm dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan atau keadaan lahan. 

Jarak antar bedengan 40-50 cm yang befungsi sebagai jalan sekaligus sarana pembuangan air (drainase). 

Apabila lahan yang tersedia terbatas maka cukup dibuat guludan setinggi 10-15 cm, lebar 20 cm, panjang hingga 5 meter dan jarak antar guludan kurang lebih 70 cm.

Pada tanah-tanah masam (pH kurang  5,5) perlu dilakukan pengapuran untuk menaikkan pH hingga 5,5-6,5. 

Sebagai bahan kapur dapat menggunakan dolomit. Kebutuhan dolomit untuk menaikkan pH sebesar 0,1 adalah kurang lebih 480 kg/ha. 

Pengapuran hendaknya dilakukan 2-3 minggu sebelum penanaman dengan cara disebar di permukaan tanah, lalu dicangkul agar tercampur merata dengan tanah.

Setelah lahan siap, langkah berikutnya adalah pemasangan mulsa plastik hitam perak. 

Manfaat mulsa plastik hitam perak, antara lain mempertahankan kelembaban tanah karena plastik mampu menahan evaporasi, memperkecil kehilangan pupuk akibat tercuci hujan, mengurangi serangga-serangga hama karena warna perak memantulkan cahaya matahari yang tidak disukai oleh serangga dan menghambat perkembangan gulma. 

Ukuran mulsa disesuaikan dengan lebar bedengan, yatu 100-125 cm, dan panjangnya sesuai dengan kebutuhan. 

Pemasangan mulsa sebaiknya dilakukan saat matahari bersinar terik agar bahan mulsa memuai sehingga memudahkan untuk ditarik menutupi bedengan. 

Bagian yang berwarna hitam menghadap ke bawah, sedangkan yang berwarna perak menghadap ke atas. 

Setelah mulsa terpasang, dilanjutkan dengan pembuatan lubang tanam menggunakan alat pelubang yang terbuat dari kaleng berdiameter 10 cm.


3. Pemupukan

Pada waktu pengolahan tanah, lahan hendaknya dipupuk dengan pupuk kandang kotoran ruminansia atau kotoran unggas, yang sduah matang dengan takaran 10 ton/ha, lalu dicampur merata dengan tanah sebelum dibuat bedengan dengan lebar 100-150 cm.

Pemberian pupuk buatan saat tanam dilakukan dengan memberikan Urea (N) sebanyak 65 kg/ha. 

Pupuk tersebut, ditempatkan pada kedalaman kira-kira 7 setengah cm dengan jarak kira-kira 7 setengah cm dari barisan. 

Selain itu, bersamaan dengan pemupukan N juga dilakukan pemupukan TSP sebanyak 40 kg/ha dan KCL sebanyak 15 kg/ha. 

Pemupukan berat, terutama N, tidak diperlukan di tanah-tanah yang subur karena buncis sangat responsif terhadap tanah subur. 

Apabila pupuk N diberikan berlebihan maka simbiosis dengan Rhizobium menjadi  berkurang. 

Di samping itu, pertumbuhan vegetatif akan berlebihan sehingga pertumbuhan generatif menjadi tertekan sehingga produksi dapat berkurang.


4. Pemeliharaan

Dalam waktu 2-3 hari setelah tanam, biji buncis mulai berkecambah, dan satu minggu setelah tanam, kecambah telah tumbuh menjadi tanaman-tanaman kecil. 

Biji yang tidak berkecambah atau perkecambahannya untuk mengghasilkan tanaman normal harus segera diganti dengan benih yang baru atau disulam. 

Penyulaman dapat pula dilakukan dengan memindahkan tanaman yanga tumbuh lebih dari satu pada lubang tanma yang lain. 

Penyulaman hendaknya dilakukan sesegera mungkin sebelum tanaman berumur 10 hari, agar pertumbuhan seluruh tanaman relatif seragam sehingga memudahkan pemeliharaan dan pemanenan.

Kacang buncis dengan tipe pertumbuhan menjalar ke atas, perlu diberikan penopang atau lanjaran sebagai tempat merambatnya. 

Batang buncis tumbuh melilit lanjaran dengan arah berlawanan arah jarum jam. 

Biasanya lanjaran terbuat dari bambu berukuran 3-4 cm dan panjangnya 2 meter. 


Setiap dua batang lanjaran yang berhadapan, diikat menjadi satu pada ujung atasnya sehingga tampak kokoh. 

Pemasangan lanjaran ini dapat dilakukan setelah tanaman berumur 20 hari atau bersamaan denga peninggian bedengan atau guludan.

Pengairan pada areal pertanaman buncis perlu diperhatikan, terutama ketika musim kemarau karena tanaman ini sangat peka terhadap cekaman air tanah. 

Cekaman air yang terjadi selama fase pembungaan dan perkembangan polong dapat menurunkan hasil secara signifikan. 

Apabila penanaman dilakukan pada musim kemarau maka pemberian air sudah harus dimulai sejak hari pertama dengan frekuensi dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. 

Sementara itu, dimusim penghujan, yang perlu diperhatikan adalah drainase agar tetap berjalan dengan baik guna menghindari terjadinya banjir di sekitar sistem perakaran tanaman. 

Air yang berlebihan dapat dibuang melalui parit-parit yang dibuat di antara bedengan atau guludan.

Posting Komentar

0 Komentar